Kamis, 12 Oktober 2017

DILEMA...(ANTARA HAUS GLOBALISASI DAN IDENTITAS BANGSA SENDIRI)

 Zaman telah berubah, begitupun pemikiran manusia yang semakin berkembang dan maju seiring perkembangan zaman. Globalisasi adalah fenomena khusus dalam peradaban manusia yang terus bergerak dalam masyarakat global dan merupakan bagian dari proses manusia global. Adanya teknologi informasi dan komunikasi untuk mempercepat proses globalisasi ini dipercepat. Globalisasi menyentuh semua aspek penting kehidupan. Globalisasi menciptakan tantangan dan isu baru yang harus dijawab, dipecahkan dalam upaya untuk memanfaatkan globalisasi demi keuntungan kehidupan. Globalisasi itu sendiri adalah istilah yang muncul sekitar dua puluh tahun yang lalu, dan mulai begitu populer sebagai ideologi baru sekitar lima atau sepuluh tahun. Sebagai sebuah istilah, globalisasi begitu mudah diterima atau diketahui publik di seluruh dunia. Wacana globalisasi sebagai sebuah proses yang ditandai dengan pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi sehingga ia bisa mengubah dunia secara fundamental. Globalisasi sering dibicarakan oleh banyak orang, mulai dari pakar ekonomi hingga penjual ikan. Dalam kata-kata globalisasi berisi pengertian akan hilangnya satu situasi dimana berbagai pergerakan barang dan jasa antar negara di seluruh dunia dapat bergerak bebas dan terbuka dalam perdagangan. Dan dengan dibukanya satu negara terhadap negara lain, yang terjadi tidak hanya barang dan jasa, tapi juga teknologi, pola konsumsi, pendidikan, nilai budaya dan lain-lain. Konsep globalisasi menurut Robertson (1992), mengacu pada penyempitan dunia sebagai insentif dan meningkatkan kesadaran kita akan dunia, yaitu meningkatnya konektivitas global dan pemahaman kita tentang koneksi. Disini penyempitan dunia dapat dipahami dalam konteks institusi modernitas dan kesadaran refleksif dunia dapat dirasakan secara lebih baik secara kultural.
Globalisasi mulai mempengaruhi tatanan kehidupan, salah satunya budaya yang merupakan identitas atau ciri dari suatu bangsa. Di berbagai belahan dunia tentu mempunyai budayanya sendiri dan berbeda dari negara lain, termasuk di Indonesia. Budaya di Indonesia telah ada sejak zaman nenek moyang terdahulu yang sifatnya turun temurun. Menurut Ki Hajar Dewantara, kebudayaan berarti buah budi manusia terhadap dua pengaruh kuat, yakni zaman dan alam (kodrat dan masyarakat) yang merupakan bukti kejayaan hidup manusia, untuk mengatasi berbagai rintangan dan kesukaran dalam hidup dan penghidupannya guna mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang pada lahirnya bersifat tertib dan damai.
Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia (sebagai makhluk sosial) yang digunakan untuk memahami dan menginterpretasikan lingkungan dan pengalamannya, serta menjadi landasan bagi tingkah lakunya. Kebudayaan terdiri atas serangkaian nilai-nilai, norma-norma yang berisikan larangan-larangan untuk melakukan suatu tindakan dalam mengahadapi suatu lingkungan sosial, dan berisi serangkaian konsep dan model pengetahuan mengenai berbagai tindakan dan tingkah laku yang seharusnya diwujudkan oleh pendukungnya dalam menghadapi lingkungan sosial, kebudayaan dan alam. Jadi nilai-nilai tersebut dalam penggunaannya selektif sesuai dengan lingkungan yang dihadapi pendukungnya.
Beberapa orang menafsirkan globalisasi sebagai proses perampingan dunia atau menjadikan dunia seperti sebuah desa kecil. Yang lain mengatakan bahwa globalisasi masyarakat dunia adalah penyatuan usaha gaya hidup, orientasi, dan budaya. Pemahaman globalisasi lainnya seperti yang diklaim oleh Barker (2004) adalah bahwa globalisasi adalah hubungan global ekonomi, sosial, budaya dan politik yang semakin mengarah ke berbagai arah di seluruh dunia dan menembus ke dalam kesadaran kita. Produksi global lokalisasi produk lokal dan global. Globalisasi adalah proses dimana peristiwa, keputusan dan aktivitas di belahan dunia dapat membawa konsekuensi penting bagi berbagai individu dan masyarakat di belahan dunia lainnya. (AG Mc.Grew, 1992). Proses globalisasi pada awalnya ditandai kemajuan di bidang teknologi informasi dan komunikasi. Lapangan mendorong globalisasi. Kemajuan di lapangan kemudian mempengaruhi sektor kehidupan lainnya, seperti politik, ekonomi, sosial, budaya dan lain-lain. Contoh sederhana dengan teknologi internet, parabola dan TV, orang-orang di dunia luar akan dapat mengakses berita dari belahan dunia lain dengan cepat. Ini akan menjadi interaksi antara masyarakat dunia luas, yang pada akhirnya akan saling mempengaruhi, terutama di bidang budaya, seperti budaya saling membantu, mengunjungi tetangga yang sakit dan lainnya. Globalisasi juga mempengaruhi kaum muda dalam kehidupan sehari-hari, seperti pakaian budaya, gaya rambut dan sebagainya.
Adanya globalisasi menimbulkan berbagai masalah terhadap keberadaan budaya daerah, salah satunya adalah turunnya cinta budaya, seperti yang telah dikatakan sebelumnya bahwa budaya adalah identitas sebuah bangsa, globalisasi mengakibatkan adanya erosi nilai budaya, akulturasi (suatu proses sosial yang timbul manakala suatu kelompok manusia dengan kebudayaan tertentu dihadapkan dengan unsur dari suatu kebudayaan asing). yang kemudian berevolusi menjadi budaya massa. Interaksi fenomena alam adalah interaksi antara masyarakat. Melalui interaksi dengan berbagai masyarakat lainnya, masyarakat atau kelompok Indonesia yang tinggal di nusantara (sebelum Indonesia terbentuk) telah mengalami proses yang dipengaruhi dan mempengaruhi. Kemampuan untuk berubah merupakan ciri penting dalam budaya manusia. Tanpa budaya itu tidak bisa menyesuaikan diri dengan keadaan yang berubah. Perubahan itu terjadi begitu cepat. Hanya dalam satu generasi banyak negara berkembang telah mencoba menerapkan perubahan budaya, sedangkan di negara maju terjadi perubahan selama beberapa generasi. Intinya, bangsa Indonesia, begitu pula bangsa lain, berkembang karena pengaruh dari luar. 


Menurut survei yang dilakukan oleh Asosiasi Penyelenggara Jaringan Internet Indonesia (APJII) mengungkap bahwa lebih dari setengah penduduk Indonesia kini telah terhubung ke internet.
Survei yang dilakukan sepanjang 2016 itu menemukan bahwa 132, 7 juta orang Indonesia telah terhubung ke internet. Adapun total penduduk Indonesia sendiri sebanyak 256, 2 juta orang.
Hal ini mengindikasikan kenaikan 51, 8 persen dibandingkan jumlah pengguna internet pada 2014 lalu. Survei yang dilakukan APJII pada 2014 hanya ada 88 juta pengguna internet.
“Penyebabnya adalah perkembangan infrastruktur dan mudahnya mendapatkan smartphone atau perangkat genggam," terang Ketua APJII Jamalul Izza saat ditemui KompasTekno di sela pengumuman Riset Pengguna Internet Indonesia 2016, di Jakarta, Senin (24/10/2016).
"Kalau dulu kan cuma beberapa vendor dan perangkat genggam, sekarang jumlahnya banyak dan murah,” imbuhnya.
Data survei juga mengungkap bahwa rata-rata pengakses internet di Indonesia menggunakan perangkat genggam. Statistiknya sebagai berikut:
·         67,2 juta orang atau 50,7 persen mengakses melalui perangkat genggam dan komputer.
·         63,1 juta orang atau 47,6 persen mengakses dari smartphone.
·         2,2 juta orang atau 1,7 persen mengakses hanya dari komputer.
Meski demikian, penetrasi internet tersebut mayoritas masih berada di Pulau Jawa. Dari survei yang dipresentasikan oleh APJII itu tercatat bahwa sekitar 86,3 juta orang atau 65 persen dari angkat total pengguna internet tahun ini berada di Pulau Jawa.
Sedangkan sisanya adalah sebagai berikut:
·         20,7 juta atau 15,7 persen di Sumatera.
·         8,4 juta atau 6,3 persen di Sulawesi.
·         7,6 juta atau 5,8 persen di Kalimantan.
·         6,1 juta atau 4,7 persen di Bali dan NTB.
·         3,3 juta atau 2,5 persen di Maluku dan Papua.
APJII bekerja sama dengan Lembaga Polling Indonesia untuk melakukan survei tersebut. Proses survei dilakukan melalui tatap muka dengan metode multistep random sampling atau secara bertahap.
Analis LPI, Yonda Nurtakwa, mengatakan, tahap pertama mengenai penetrasi dilakukan dengan melihat pada 1.250 sampel dalam periode 1-11 Juni 2016.
Data yang dihasilkan dari periode ini kemudian dipakai sebagai kerangka pada proses selanjutnya, yaitu survei mengenai perilaku pengguna.
Pada tahap survei mengenai perilaku, dilakukan pengambilan sampelnya secara acak pada 2.000 orang, dan disesuaikan dengan persentase jumlah penduduk di suatu daerah.
 Berikut beberapa ilustrasi yang menggambarkan perbedaan kecanggihan teknologi zaman dulu dan sekarang akibat perkembangan zaman dan pengaruh globalisasi yang kian merubah budaya dan tradisi yang seharusnya dilestarikan. 
Ilustrasi 1 : Perubahan globalisasi yang membawa dampak negatif 
Tidak semua hal yang ditimbulkan oleh globalisasi berdampak negatif, banyak anak muda Indonesia yang tetap berkarya ditengah arus globalisasi dan tetap membanggakan nama Indoneia, mereka adalah contoh dari orang-orang yang dapat menyeimbangkan globalisasi dan budayanya, daripada melakukan hal yang tidak berguna, lebih baik membuat inovasi baru untuk negeri, dengan tetap menjunjung tinggi budaya sebagai identitas bangsa sendiri. Berikut gambarannya :
 Meski belum mempunyai sosok seperti Steve Jobs, Indonesia sebenarnya sudah memiliki beberapa anak bangsa yang berkontribusi dan bersinar di dunia teknologi, bahkan diakui secara internasional. Dalam rangka menyambut Hari Kemerdekaan Indonesia yang jatuh pada tanggal 17 Agustus nanti, Tech in Asia merangkum 8 anak bangsa yang berprestasi pada bidang teknologi:
1. Prof. Dr. Ing B. J. Habibie – Ciptakan 46 paten di bidang aeronautika
BJ Habibie
Bisa dibilang hampir semua orang Indonesia tahu siapa sosok ini. Selain menjadi presiden ketiga Indonesia, Habibie adalah sosok jenius dari negara ini yang telah mendunia. Habibie yang mendapat gelar doktor teknik mekanik dalam bidang desain dan konstruksi pesawat udara, dan telah memegang sekitar 46 paten yang diakui dunia internasional di bidang tersebut.
2. Ricky Elson – Mobil listrik
ricky elson
Belakangan ini nama Ricky Elson marak diperbincangkan setelah Menteri BUMN Dahlan Iskan memintanya untuk menggarap mobil listrik buatan Indonesia agar bisa bersaing di kancah global. Ricky yang belasan tahun tinggal dan bekerja di Jepang ini, merupakan ahli dalam hal teknologi motor penggerak listrik dan telah menciptakan belasan paten di bidang tersebut.
khoirul anwar
3. Prof. Dr. Eng. Khoirul Anwar – Teknologi 4G
Lulusan ITB dan Nara Institute of Science and Technology, Jepang, Khoirul Anwar merupakan pemilik paten sistem telekomunikasi 4G berbasis Orthogonal Frequency Division Multiplexing (OFDM). Temuannya ini telah dipatenkan tahun 2010 dan kemungkinan besar dipakai untuk teknologi di masa depan.
4. Prof. Nelson Tansu – Pakar teknologi nano
Nelson Tansu
Nelson Tansu, kedua dari kiri.
Pria kelahiran Medan ini merupakan pakar teknologi nano dan optolektronika yang mempunyai karir akademis gemilang. Nelson telah berhasil menjadi asisten profesor ketika umurnya baru menginjak 25 tahun. Kini, Nelson menjadi associate professor di Lehigh University di Amerika dengan telah menerbitkan ratusan jurnal internasional tentang tentang semikonduktor, optoelektronika, fotonika, dan nanoteknologi. Selain itu, Nelson juga telah memegang delapan paten dalam bidang yang ditekuninya.
5. Dr. Warsito Purwo Taruno – Teknologi pemindai 4D pertama di dunia
Warsito Purwo Taruno
Warsito Purwo Taruno, kedua dari kanan.
Dr. Warsito merupakan penemu Electrical Capacitance Volume Tomography (ECVT), yang merupakan teknologi pemindai 4D pertama di dunia. Teknologi itu disebut-sebut lebih canggih dibanding CT Scan dan MRI. Dr. Warsito masih terus mengembangkan teknologi tomografi volumetric di CTECH Labs Edwar Technology, perusahaan riset sistem tomografi 4D yang didirikannya.
6. Dr. Sehat Sutardja – CEO Marvell
Sehat Sutardja
Sehat Sutardja merupakan CEO dan co-founder Marvell Technology Group, yang merupakan perusahaan manufaktur produk semikonduktor yang banyak dipakai di berbagai perangkat elektronika yang berbasis di California. Sehat memiliki sekitar 260 hak paten dan dikenal luas sebagai pelopor semikonduktor.
7. Dr. Oki Gunawan – Peneliti teknologi semikonduktor IBM
Oki Gunawan
Sewaktu SMA, Oki Gunawan merupakan salah satu dari lima siswa Indonesia yang mengikuti Olimpiade Fisika Internasional ke-24 dan berhasil mendapatkan medali perunggu. Sejak saat itu, Oki yang menggeluti teknologi semikonduktor menerima berbagai penghargaan di kancah internasional. Kini Oki bekerja sebagai peneliti teknologi semikonduktor di IBM, perusahaan raksasa teknologi asal Amerika.
8. Bagus Nugroho – Peneliti untuk ekspedisi ke Mars
bagus nugroho
Bagus yang tengah menyelesaikan studi doktoralnya pada bidang teknik mekanik dan fisika di University of Melbourne ini terpilih menjadi salah satu peneliti ekspedisi JAXA (semacam NASA milik Jepang) ke planet Mars. Bagus akan meneliti kinerja parasut supersonik yang berperan penting pada proses pendaratan.
Selain delapan teknokrat yang telah diulas di atas, masih ada banyak lagi anak bangsa yang sangat kompeten di bidang teknologi. Sebagian besar para teknokrat tersebut tinggal di luar negeri karena berbagai alasan seperti kurangnya infrastruktur, dukungan, serta merasa tidak dihargai di negeri sendiri. Andai pemerintah lebih memberikan dukungan dan penghargaan bagi mereka, bukan tidak mungkin jika negara ini nantinya bisa bersaing di kancah global.
Nah, bagaimana teman-teman, setelah melihat ulasan diatas? lebih baik menerima globalisasi tanpa filter atau memanfaatkan globalisasi untuk kepentingan bangsa sendiri? Sebaiknya kita sebagai generasi muda terus menerus berinovasi agar ada yang bisa di berikan kepada negara kita tercinta ini. Dan tetap jangan melupakan budaya sendiri, agar kita tidak kehilangan identitas sebagai bangsa yang berbudaya, melek globalisasi baik, asal kita bisa mengaturnya sebaik mungkin, dan buruk saat kita salah memanfaatkannya. sangat miris ketika melihat globalisasi yang mengubah pola pikir seseorang sehingga lupa waktu, lupa makan, bahkan lupa belajar, semoga artikel ini bermanfaat. Terima kasih!!




DAFTAR PUSTAKA
Rahaju, Sri. 2017. Ilmu sosial budaya dasar. Yogyakarta: Andi Offset

Herimanto, dan Winarno. 2013. Ilmu sosial dan budaya dasar. Jakarta: Bumi Aksara

Yohantri. 2011. Effect of globalization of Indonesian culture. Diambil dari: http://yohanatri.blogspot.co.id/2011/08/effect-of-globalization-of-indonesian.html 

Panji, Aditya. 2014. Hasil Survei Pemakaian Internet Remaja Indonesia. Diambil dari :http://tekno.kompas.com/read/2014/02/19/1623250/Hasil.Survei.Pemakaian.Internet.Remaja.Indonesia.    

Widiartanto, Yoga Hastadi. 2016. Pengguna internet di Indonesia mencapai 132 Juta. Diambil dari: http://tekno.kompas.com/read/2016/10/24/15064727/2016.pengguna.internet.di.indonesia.capai.132.juta.
Rizal, Herry Fahrur. 2015. Orang Indonesia prestasi. Diambil dari : https://id.techinasia.com/orang-indonesia-berprestasi-bidang-teknologi-kancah-internasional